VIVAbola - Manchester United melakukan comeback memukau saat menyingkirkan Olympiakos Piraeus di babak 16 besar Liga Champions, Kamis dinihari WIB, 20 Maret 2014. Setan Merah melumat juara Yunani tersebut dengan skor telak 3-0 di leg 2.
Sukses yang tidak mudah. Pasalnya, menjamu Olympiakos di Old Trafford, MU berbekal defisit 2 gol setelah takluk 0-2 di leg 1. Ditambah hujan cercaan juga terus menyelimuti MU di tengah misi berat membalikkan situasi.
Namun, MU membuktikan, di tengah keterpurukan musim ini, skuad besutan David Moyes ini masih memiliki harga diri sebagai raksasa Eropa yang tidak akan dengan mudah begitu saja dipermalukan klub petualang di kancah Eropa seperti Olympiakos. Banjir Hujatan Iringi Langkah MU
Usai ditekuk Olympiakos 0-2, akhir Februari lalu, di Yunani, MU terus dihujani kritikan. Apalagi, kala itu, MU harus diakui tampil di bawah standar. Bahkan, mereka hanya bisa memiliki satu peluang di akhir laga.
Hujan kritikan bahkan menyasar langsung kepada sejumlah pemain dan pelatih secara personal. Salah satu pemain yang jadi sasaran adalah Michael Carrick yang dianggap bermain sangat datar. Moyes juga tidak kalah mendapat guyuran kritikan.
"Kami mendapat kritik dari segala sisi dan semua orang sedikit menikmati itu. Jadi, kami harus menghentak balik dan saya yakin kami mampu," ujar Carrick menjawab kritikan yang mengarah kepada timnya.
Situasi diperparah dengan sikap fans Setan Merah yang mulai meragukan kemampuan klub kesayangannya. Tidak hanya itu, salah satu punggawa MU Robin van Persie tanpa ragu mengkritik permainan rekan-rekan setimnya.
Kritikan semakin bertambah ketika jelang menghadapi Olympiakos di leg 2, MU tumbang secara memalukan oleh Liverpool 0-3 di Old Trafford dalam lanjutan Premier League, akhir pekan lalu. Bekal yang tidak bagus buat MU untuk berlaga di kancah Eropa
Namun, situasi buruk yang ada tidak membuat David Moyes panik. Mantan pelatih Everton itu percaya timnya mampu bangkit. Apalagi, Setan Merah punya sejarah melakukan comeback gemilang yang berpeluang terulang musim ini.
"Dua kali MU bisa melakukannya (bangkit dari defisit dua gol di leg 1). Yang terbaru tentu saja pada 1984 saat melawan Barcelona. Robbo (Bryan Robson) mencetak dua gol," kata Moyes seperti dilansir Tribal Football.
"Itu bukan sesuatu yang banyak terjadi. Tapi, itu sesuatu yang akan kami coba wujudkan di laga nanti melawan Olympiakos," lanjut mantan pelatih Everton tersebut optimis.
20 tahun silam, MU memang pernah mencatatkan sejarah gemilang di kancah Eropa. Setan Merah mampu menang telak 3-0 atas Barcelona yang kala itu diperkuat Diego Maradona di Old Trafford di leg 2 perempat final Piala Winners.
Bryan Robson tampil gemilang dengan mencetak 2 gol. Satu gol lainnya dibukukan Frank Stapleton. Kebangkitan gemilang. Pasalnya, MU kala itu sempat takluk 0-2 dari Barcelona di leg 1 di Camp Nou. Inilah yang diharapkan Moyes bisa terulang.
"Saya mengakui kita jarang melihat momen seperti itu. Tapi, mudah-mudahan kami bisa mengulanginya. Dengan kualitas yang ditunjukkan para pemain saat ini, saya memiliki kepercayaan penuh dengan kemampuan mereka," tutur Moyes.
Dan harapan Moyes menjadi kenyataan saat MU akhirnya mampu memastikan lolos ke babak perempat final dengan agregat 3-2 usai meraih kemenangan telak 3-0 atas Olympiakos berkat hattrick Robin van Persie di Old Trafford, Kamis dinihari kemarin. Comeback Sensasional di Liga Champions
MU baru saja melakukan comeback cantik atas Olympiakos di babak 16 besar Liga Champions. "Setan Merah" berhasil mengikuti jejak klub-klub besar Eropa lainnya.
Tentu, ini bukan hasil sembarangan. Tidak mudah untuk menang 3-0 atas sang lawan, yang tercatat sudah 50 kali menjuarai Liga Yunani. Bisa disebut ini jadi comeback sensasional.
Namun, ada beberapa klub yang pernah melakukan hal serupa sejak era Liga Champions bergulir awal 1990-an. Berikut lima comeback terbaik di fase knockout, menurut situs resmi Liga Champions:
Walter Pandiani membuat Deportivo unggul lebih dulu, namun Milan akhirnya menang di San Siro berkat dua gol Kaka. Wakil Spanyol itu pun mengungkapkan impian mereka untuk lolos bak mimpi.
Ternyata, mimpi itu jadi kenyataan di Santiago de Compostela. Pandiani, Juan Carlos Valeron dan Alberto Luque menyamakan agregat jadi 4-4 di babak pertama. Sebelum, Fran Gonzales memastikan kemenangan "Super Depor" di menit 76 dan lolos dengan agregat tipis 5-4.
Peluang Monaco untuk lolos ke perempat-final tampak sudah tertutup saat peluit panjang ditiup di Santiago Bernabeu. Kekalahan 2-4 dari tim sekelas Madrid tentu bukan sebuah bekal bagus jelang leg 2.
Namun, aksi Ludovic Giuly yang mencetak dua gol dan Fernando Morientes pada laga lanjutan akhirnya memastikan kemenangan bersejarah Monaco atas Madrid, sekaligus menyingkirkan sang lawan dengan keunggulan gol tandang. Sebuah comeback yang tak diprediksi pun terjadi.
Chelsea sempat mengejutkan pada era sebelum kedatangan Roman Abramovich saat Gianluca Vialli mengalahkan Barcelona asuhan Louis van Gaal 3-1 lewat gol Gianfranco Zola dan dua gol Tore Andre Flo. Tapi, kisah sukses itu tak berlanjut di Camp Nou.
Flo sempat membesarkan asa Chelsea untuk lolos. Namun, Barca berhasil menyamakan keadaan lewat gol Dani Garcia. Laga pun harus berlanjut ke perpanjangan waktu karena agregat sama 4-4. Penalti Rivaldo dan gol Patrick Kluivert akhirnya jadi pembeda di masa perpanjangan waktu.
"Ini hari terindah dalam hidup saya," ujar pemain Barcelona, Gabri Garcia. Sementara Luis Figo mengatakan: "Kami bermain sempurna."
Perjalanan Chelsea menuju juara Liga Champions dua tahun silam harus melewati comeback dramatis saat hadapi wakil Italia, Napoli, di awal fase knockout. Dua gol Ezequel Lavezzi dan milik Edinson Cavani membuat Napoli unggul 3-1 di leg 1.
Kekalahan itu membuat Andre Villas-Boas didepak dan digantikan oleh Roberto Di Matteo jelang laga ke Naples. Perubahan itu berbuah manis karena Chelsea tampil luar biasa dengan membalas di leg 2 lewat Didier Drogba, John Terry, Franck Lampard, dan gol penentu di babak tambahan yang dicetak gol Branislav Ivanovic.
Kemenangan itu menjadi pembangkit semangat klub London tersebut. Setelah itu, The Blues terus melaju sampai akhirnya mengalahkan Bayern Munich di final.
Catatan belum ada tim yang menang setelah kalah 0-2, tanpa gol tandang, di leg 1 membuat Barcelona harus bekerja keras saat menjamu Milan di leg 2. Tapi, pemecah rekor buruk itu akhirnya terjadi di Camp Nou.
Dua gol Lionel Messi pada babak pertama membuat agregat kedua tim menjadi sama. Langkah Barcelona menuju 8 besar akhirnya dipastikan oleh David Villa dan Jordi Alba di awal dan akhir babak kedua.
"Ini adalah Barca yang kami dan para fans inginkan di setiap laga. Mereka butuh Barcelona yang seperti itu," ujar Messi usai kemenangan bersejarah tersebut.
Terus Berlanjut atau Keberuntungan Belaka?Sukses MU melaju ke babak perempatfinal melambungkan kepercayaan diri Moyes. "Saya harap begitu," ujar Moyes pada situs resmi MU, ketika ditanya soal kesempatan MU lolos ke final di Lisabon, Mei mendatang.
"Kami akan masuk ke babak perempat-final mungkin dengan status underdog, tapi saya tidak melihat kenapa kami tidak bisa menjadi juara. Klub ini mampu melakukannya. Klub ini punya sejarah besar di Eropa. Kami tahu apa yang harus dilakukan di babak ini.
"Kami tidak terkejut berada di perempat-final, itu hal yang biasa kami lakukan. Jika kami bermain sesuai kemampuan sebenarnya, yang sering tidak kami perlihatkan musim ini, saya pikir kami bisa mengalahkan tim mana pun," sesumbar Moyes.
Moyes boleh saja sesumbar sukses MU ini akan terus berlanjut. Namun, waktu yang akan membuktikan apakah sukses Setan Merah, Kamis lalu, akan berlanjut atau hanya sebuah kebetulan dan keberuntungan belaka.
Apalagi, Moyes juga mengakui timnya musim ini kerap tampil tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya. Itu dibuktikan dengan penampilan Wayne Rooney dan kawan-kawan yang tidak konsisten sepanjang musim ini.
Penampilan tidak konsisten MU sangat terlihat dalam 10 laga terakhir musim ini di seluruh kompetisi yang diikuti. Mereka menelan empat kekalahan, empat kemenangan dan dua hasil imbang. Catatan statistik yang mengecewakan.
Penampilan MU di Liga Champions musim ini juga tidak terlalu stabil. Padahal, untuk mencapai laga pamungkas, MU tidak boleh tergelincir sedikit pun. Sebab, seluruh tim yang lolos ke babak perempat final Liga Champions adalah para raksasa yang sudah malang melintang di kancah Eropa. (one)
Original Post by: http://ift.tt/1gMqmhS

0 comments:
Post a Comment